Pabrik karet ini didirikan oleh Pemerintah Belanda dengan nama N.V FATERU (Fabriek Technische Rubberwaren) pada tahun 1933 dengan peralatan pabrik yang relatif masih sangat sederhana. Ketika bangsa Jepang tiba di Indonesia dan merebut kekuasaan dari pemerintah Belanda, Perusahaan ini di beri nama “Priangan Gomoe Kogjo” dan produksinya hanya untuk keperluan militer Jepang.

Setelah Indonesia Merdeka, maka Perusahaan tersebut di kuasai oleh Bangsa Indonesia. Akan tetapi pada tahun 1946 untuk kedua kalinya Belanda datang ke Indonesia, kemudian Perusahaan dikuasai oleh Pemerintahan Belanda dan nama Perusahaan kembali menjadi  N.V Fateru Bandoeng.

Berdasarkan Undang-undang No.86 tahun 1958 dan Lembaran Negara No.1962 tahun 1958 tentang nasionalisasi, Perusahaan milik Belanda di Indonesia yang pelaksanaanya diatur oleh peraturan Pemerintah No.33 tahun 1959 dan Lembaran Negara No.53 tahun 1959, Perusahaan-Perusahaan tersebut diambil alih oleh Pemerintah Indonesia.

HEADLINE

Dalam pelaksanaannya selain didukung oleh mesin-mesin produksi dan peralatan uji, juga didukung oleh beberapa  lembaga peneliti melalui kerjasama penelitian baik dalam rangka peningkatan mutu produk subtitusi impor. Beberapa kerjasama penelitian telah dilakukan dengan lembaga penelitian.Industri barang teknik karet “Inkaba” dikelola oleh tenaga-tenaga Profesional yang berpengalaman sejak didirikan tahun 1933, serta telah berpartisipasi aktif dalam pendayagunaan produksi dalam negeri melalui rekayasa dan rancang bangun barang teknik karet yang berkualitas tinggi. Inkaba dapat memproduksi berbagai jenis barang teknik karet sesuai dengan spesifikasi kebutuhan baik desain maupun sifat fisik  .

Kerjasama PT Agronesia (Inkaba), Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNU), dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)

PT Agronesia, UNU dan LIPI melakukan penandatanganan kerjasama “Penelitian dan Pengembangan Teknologi untuk Aplikasi Industri, dan Pemanfaatan Iptek” yang dilakukan di gedung atau ruang semininar LIPI Bandung.